Tampilkan postingan dengan label Silalahi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Silalahi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 20 April 2010
Minggu, 18 April 2010
Asal dan Usul
Dari berbagai sumber umum yang ada di Silalahi Nabolak, asal usul marga Silalahi berasal dari Raja Parmahan, klan Sondi Raja (Rumasondi), cucu Raja Silahi Sabungan dari turpuk Sondiraja. Raja Parmahan yang diambil paksa oleh Tuan Sihubil, putra Sibagotni Pohan, yang diutus untuk menemui Raja Silahi Sabungan untuk diminta ke Balige oleh Sibagotni Pohan. Sibagotni Pohan merupakan kakak tertua Raja Silahi Sabungan, Siraja Oloan dan Sipaittua. Raja Silahi Sabungan tinggal di Huta Lahi disebut juga Silalahi Nabolak.
Tuan Sihubil kemudian dinobatkan sebagai penggati Sibagotni Pohan yang telah tua sebagai peimpin keturunan Sibagotni Pohan di Lumban Gorat, Balige. Sebagai tanda hubungan darah keturunan antara Sibagotnipohan dan Silahi Sabungan, Tuan Sihubil kemudian mengangkat Raja Bunga-bunga sebagai anaknya dan menggati namanya menjadi Raja Parmahan. Tuan Sihubil kemudian memberi marga SILALAHI kepada Raja Parmahan. Sebelumnya, Tuan Sihubil belum memiliki keturunan (anak). Namun tidak lama, Tuan Sihubil kemudian mendapatkan keturunan dan digelarinya marga Tampubolon. Kelak, Tampubolon disandingkan dengan Silalahi (padan) sebagai kakak-adik di Balige. Itu sebabnya di Balige, Silalahi dan Tampubolon tidak diijinkan saling mengawini.
Raja Parmahan Silalahi
Raja Parmahan kemudian tinggal di Balige, ulayat yang diberikan Tuan Sihubil kepadanya dibangunlah kampung Silalahi di Hinalang, Balige. Raja Parmahan kemudian menikahi Boru Pasaribu sebagai istri (parsondukbolon). Menurut turi-turian ( dan ini telah diabadikan pada Tugu Makan Raja Parmahan Silalahi di Silalahi Balige ), Raja Parmahan Silalahi mempunyai empat keturunan yang diberikan yang dinamainya menurut marga saudaranya di Huta Lahi ( sekarang : Silalahi Nabolak ). Keturunan Raja Parmahan diantaranya : Sihaloho, Sinagiro, Sinabang dan Sinabutar. Saat ini, diantara mereka juga banyak memakai marga Silalahi, setelah dianjurkan pada peresmian Tugu Makam Raja Silahi Sabungan si Silalahi Nabolak, dengan tujuan tidak "nyaru" dengan marga-marga lainnya di Silalahi Nabolak.
Selain telah diabadikan pada Tugu Makam Raja Silahi Sabungan di Sialahi Nabolak, maka pada buku "Kamus Budaya Batak Toba" karangan M.A. Marbun dan I.M.T. Hutapea, terbitan Balai Pustaka, Jakarta, 1987, diuraikan Tarombo keturunan Raja Silahi Sabungan adalah sebagai berikut :
(1) Urutan marga Keturunan Raja Silahi Sabungan ialah :
Hal ini senada dengan apa yang tertera di Tugu Makam Raja Silahi Sabungan di Silalahi Nabolak. Nama-nama yang tertera di Makam/Tugu Raja Silahi Sabungan di Silalahi Nabolak adalah ke-8 Raja turpuk, yaitu : Loho Raja, Tungkir Raja, Sondi Raja, Butar Raja, Bariba Raja, Debang Raja, Batu Raja, Tambun Raja.
Sedangkan marga keturunan 8 Raja Turpuk lainnya tidak tertera lagi karena mereka adalah turunan dari ke depalan (8) anak Raja Silahi Sabungan dan bukan terlahir dari Silalahi Nabolak. Seperti : Sipangkar, Sipayung, Silalahi, Sinurat, Doloksaribu, Nadapdap, Sinabutar, Sinabang, Naiborhu, Tambun, Tambunan, Daulay, Keloko, Sinulaki, Sinupayung, Sinupangkar
(2) Keturunan Rumasondi, anak Sondi Raja ialah :
Ketika Tambun Raja kembali dari Silalahi Nabolak ke Sibisa, disana ia diberi gelari oleh pamannya ( klan Raja Mangarerak Nairasaon ) dengan gelar Raja Itano. Dari gelar itu kemudian keturunannya kadang menyebut Tambun Raja menjadi Siraja Tambun. Hanya saja , di Silalahi Nabolak ia tetap di sebut Tambun Raja.
(4) Keturunan Raja Parmahan (Marga Silalahi) ialah :
Tuan Sihubil kemudian dinobatkan sebagai penggati Sibagotni Pohan yang telah tua sebagai peimpin keturunan Sibagotni Pohan di Lumban Gorat, Balige. Sebagai tanda hubungan darah keturunan antara Sibagotnipohan dan Silahi Sabungan, Tuan Sihubil kemudian mengangkat Raja Bunga-bunga sebagai anaknya dan menggati namanya menjadi Raja Parmahan. Tuan Sihubil kemudian memberi marga SILALAHI kepada Raja Parmahan. Sebelumnya, Tuan Sihubil belum memiliki keturunan (anak). Namun tidak lama, Tuan Sihubil kemudian mendapatkan keturunan dan digelarinya marga Tampubolon. Kelak, Tampubolon disandingkan dengan Silalahi (padan) sebagai kakak-adik di Balige. Itu sebabnya di Balige, Silalahi dan Tampubolon tidak diijinkan saling mengawini.
Raja Parmahan Silalahi
Raja Parmahan kemudian tinggal di Balige, ulayat yang diberikan Tuan Sihubil kepadanya dibangunlah kampung Silalahi di Hinalang, Balige. Raja Parmahan kemudian menikahi Boru Pasaribu sebagai istri (parsondukbolon). Menurut turi-turian ( dan ini telah diabadikan pada Tugu Makan Raja Parmahan Silalahi di Silalahi Balige ), Raja Parmahan Silalahi mempunyai empat keturunan yang diberikan yang dinamainya menurut marga saudaranya di Huta Lahi ( sekarang : Silalahi Nabolak ). Keturunan Raja Parmahan diantaranya : Sihaloho, Sinagiro, Sinabang dan Sinabutar. Saat ini, diantara mereka juga banyak memakai marga Silalahi, setelah dianjurkan pada peresmian Tugu Makam Raja Silahi Sabungan si Silalahi Nabolak, dengan tujuan tidak "nyaru" dengan marga-marga lainnya di Silalahi Nabolak.
Selain telah diabadikan pada Tugu Makam Raja Silahi Sabungan di Sialahi Nabolak, maka pada buku "Kamus Budaya Batak Toba" karangan M.A. Marbun dan I.M.T. Hutapea, terbitan Balai Pustaka, Jakarta, 1987, diuraikan Tarombo keturunan Raja Silahi Sabungan adalah sebagai berikut :
(1) Urutan marga Keturunan Raja Silahi Sabungan ialah :
- Laho Raja , keturunannya : Sihaloho.
- Tungkir Raja, keturunannya : Situngkir, Sipangkar, Sipayung.
- Sondi Raja, keturunannya : Ruma Sondi, Rumasingap, Silalahi, Sihaloho, Sinabutar, Sinabang, Sinagiro,Naiborhu, Nadapdap, Sinurat, Dolok Saribu.
- Butar Raja, keturunannya : Sidabutar.
- Bariba Raja, keturunannya : Sidabariba
- Debang Raja : Sidebang
- Baturaja : Pintubatu, Sigiro.
- Tambun Raja : Tambun, Tambunan
Hal ini senada dengan apa yang tertera di Tugu Makam Raja Silahi Sabungan di Silalahi Nabolak. Nama-nama yang tertera di Makam/Tugu Raja Silahi Sabungan di Silalahi Nabolak adalah ke-8 Raja turpuk, yaitu : Loho Raja, Tungkir Raja, Sondi Raja, Butar Raja, Bariba Raja, Debang Raja, Batu Raja, Tambun Raja.
Sedangkan marga keturunan 8 Raja Turpuk lainnya tidak tertera lagi karena mereka adalah turunan dari ke depalan (8) anak Raja Silahi Sabungan dan bukan terlahir dari Silalahi Nabolak. Seperti : Sipangkar, Sipayung, Silalahi, Sinurat, Doloksaribu, Nadapdap, Sinabutar, Sinabang, Naiborhu, Tambun, Tambunan, Daulay, Keloko, Sinulaki, Sinupayung, Sinupangkar
(2) Keturunan Rumasondi, anak Sondi Raja ialah :
- Bolon Raja
- Raja Parmahan ( di Hinalang Balige dinobatkan marga Silalahi dan memiliki padan dengan marga Tampubolon , keturunan Tuan Sihubil).
- Tambun Mulia
- Tambun Saribu
- Tambun Marbun.
Ketika Tambun Raja kembali dari Silalahi Nabolak ke Sibisa, disana ia diberi gelari oleh pamannya ( klan Raja Mangarerak Nairasaon ) dengan gelar Raja Itano. Dari gelar itu kemudian keturunannya kadang menyebut Tambun Raja menjadi Siraja Tambun. Hanya saja , di Silalahi Nabolak ia tetap di sebut Tambun Raja.
(4) Keturunan Raja Parmahan (Marga Silalahi) ialah :
- Sihaloho
- Sinagiro, keturunannya marga Naiborhu
- Sinabang
- Sinabutar, keturunannya memakai marga : Sinurat, Nadapdap, Dolok Saribu
Pahatan Tarombo Raja Bunga-bungan alias Raja Parmahan
pada Tugu Makam Raja Parmahan Silalahi
di desa Silalahi Hinalang , Pagarbatu, Balige.
Kronologis Makam Oppu Raja SilahiSabungan
Sesuai dengan permintaan dari Oppu Silahisabungan sebelum meninggal untuk dikuburkan dekat dengan hulahulanya Ompu Raja Bolon maka saat dia meninggal dikuburkanlah di dolok Parmasan Pangururan (Parmasan = bukit tempat Emas, karena suku batak berprinsip tengkorak dan tulang belulang orang tua adalah seperti Emas/barang berharga), semenjak dari situ keturunannya turun temurun yakni Silalahi, Si 7 turpuk (Sihaloho, Situkkir, Rumasondi, Sinabutar, Sinabariba, Sinabang, Pintubatu dan Raja Tambun mengetahui disanalah kuburannya.
Thn 1898 saat Raja Tuderik Tambunan menjabat suatu jabatan penting di Pangurunan dia sangat menghormati kuburan oppungnya dan berpikir maju kedepan dengan berinisiatif mencacat keberadaan kuburan tersebut.
Pada thn 1928 dan 1936 rombongan musik tiup yang terdiri dari Tambunan Lumbanpea, Tambunan Batuara dan Tambunan Pagaraji melakukan jiarah dan penghormatan kemakam Oppu Raja Silahisabungan yang ada di dolok Parmasan Pangururan.
Keberadan makam yang sudah ratusan tahun, kelihatan sederhana sesuai dengan keadaan masa itu hanya ditandai dengan batu nisan dan ditumbuhi bunga liar
Sehingga thn 1947 yang diketuai Abdul Malik Tambunan membentuk Panitia pemugaran makam Oppu Raja Silahisabungan, namun rencana itu terhenti karena masuknya Belanda ke Pangururan thn 1948.
Sekitar thn 1968 ada rencana pendirian Tugu (monument) untuk Oppu Raja Silahi sabungan di Paropo Huta Silalahi Nabolak, hal itupun disambut baik oleh seluruh keturunannya Baik Silalahi, Si 7 turpuk dan siraja Tambun, mubespun berjalan dgn baik, namun ditengah mubes terjadi penyimpangan tarombo yang dilakukan panitia tarombo dgn tidak mencantumkan Silalahi sebagai anak Silahisabungan, hal itupun memacu pertentangan yang a lot hingga Silalahi dan Raja Tambun melakukan walkout dari forum.
Tidak sampai disitu si 7 turpukpun ingin memindahkan saring-saring (kerangka Oppu silahisabungan yang ada di dolok parmasan ke tugu yang direncanakan, hal itupun tidak diijinkan Silalahi dan Raja Tambun.
Walau tdk diikuti Silalahi dan Raja Tambun pembangunan tugupun tetap dilakukan si 7 turpuk hingga tgl 23-27 -1981 diresmikan.
Untuk menjaga kemungkinan terburuk Silalahi dan Raja Tambun berinisiatif untuk memugar kembali Kuburan oppu silahisabungan degan mendirikan tambak na pir dan kokoh lengkap dengan patung silahisabungan dengan patung ke tiga istrinya serta dihiasi relief perjalanan hidup silahisabungan. Dalam pemugaran itu tetap tidak menghilangkan nisan yang lama karena sampai sekarang ada terlihat didalam bangunan tambak tersebut.
Terjadinya Padan Silalahi dengan Tampubolon
TERJADINYA PADAN SILALAHI DENGAN TAMPUBOLON
Kemarau panjang di huta Balige Raja sudah diambang batas hingga membuat rumput dan tumbuh-tumbuhan menjadi kering dan ternakpun banyak yang mati, hal itu sangat meresahkan Sibagot nipohan yang menjadi pewaris tahta dari Tuan Sorbadibanua.
Mengingat sepanjang pemerintahan ayahnya Tuan Sorbanibanua, hal ini belum pernah terjadi hingga membuatnya cemas dan bertanya kepada orang pintar.
Singkat cerita setelah di lakukan ritual kepada Mulajadi Nabolon, tirai misteripun terungkap bahwa semua itu terjadi karena ulah Sibagot nipohan yang membuat kesalahan hingga adek-adeknya Sipaettua , Silahisabungan dan Sirajaoloan sakit hati hingga pergi meninggalkan huta Balige Raja.
Adapun satu-satunya syarat agar kemarau panjang bisa berakhir menurut petunjuk orang pintar tersebut, Sibagot nipohan harus mengumpulkan adek-adeknya untuk minta maaf dan berdamai.
Hal itupun tidak disia-siakan Sibagotnipohan dan segera menyuruh anaknya Tuan Sihubil dan ditemani pengawalnya.
Huta Laguboti menjadi persinggahan pertama mereka utk menemui Sipaettua, setelah Tuan sihubil menceritakan keadaan di Balige Raja Sipaettuapun bersedih dan menyanggupi untuk datang segera. Selanjutnya Tuan Sihubil berangkat ke Bakkara menemui Sirajaoloan dan menceritakan kejadian yang menyedihkan itu hingga Siraja oloanpun siap untuk datang sesuai dengan hari yang ditetapkan.
Perjalanan jauhpun terbentang dihadapan Tuan Sihubil untuk menuju Huta Tolping Samosir tempat tinggal Silahisabungan yang belum tentu juga ada disitu, karena Silahisabungan sering mardua huta ke Paropo tempat istri ke duanya dan ke huta lain untuk mengobati.
Namun hari yang baik juga yang menyertai Tuan Sihubil hingga mereka bertemu di Tolping dan menyampaikan pesan ayahnya untuk datang ke huta Balige Raja serta menceritakan seluruh kejadian yang terjadi Huta Balige Raja, mendengar penjelasan keponakannya yakni Tuan Sihubil hatinyapun miris, namun karena janjinya “Tidak akan mau melihat asap dapur dari abangnya Sibagotnipohan” diapun dengan berat hati menolak ajakan Tuan Sihubil.
Berbagai cara dilakukan Tuan Sihubil untuk mengajak bapa udanya Silahisabungan, namun sedikit pun hati Silahisabungan tidak tergerak membuat Tuan Suhubil merasa putus asa dan ingin pulang dengan tangan hampa.
Namun kembali terbayang derita yang dialami seluruh penghuni kampungnya dan wajah ayahnya Sibagotnipohan yang sudah mulai tua hingga dia tetap bertahan di Tolping dan berusaha membujuk Silahisabungan.
Sebagai seorang panglima yg ditugaskan yang tentu sudah berpengalaman, Tuan Sihubilpun tidak habis akal, dia berpikir kekerasan hati Silahisabungan sepertinya tidak dapat diluluhkan dengan cara bujukan, berarti harus dilakukan dengan paksa yakni dengan cara menculik cucunya anak dari Silalahi Raja yang kebetulan sedang marmahan (mengembala).
Missipun segera dilakukan dan menangkap ke tiga anak dari Silalahi Raja yakni Raja Tolping, Bursok Raja dan Raja bunga-bunga yg paling kecil.
Si Raja Tolping yg paling besar meronta dan berhasil melarikan diri, begitu juga Si Bursok Raja terus meronta disepanjang perjalanan hingga membuat solu yang dikendarai Tuan Sihubil tidak stabil hingga diputuskan untuk dilepas saat melewati Tano Ponggol Pangururan.
Tinggal Rajabunga-bunga yg paling kecil akhirnya dibawa Tuan Sihubil hingga ke Balige Raja.
Mendengar cucunya diculik oleh Tuan Sihubil, Silahisabunganpun geram dan segera mengajak anaknya Silalahi Raja untuk mengayuh solunya mengejar Tuan Sihubil
Namun selang waktu yang begitu jauh membuat Tuan Sihubil lebih dulu tiba di Balige Raja dan membawa Raja Bunga-bunga ke hadapan ayahnya Sibagotnipohan.
Sibagotnipohanpun heran melihat anak tersebut dan menanyakan anak siapa ini,
Tuan Sihubil segera menceritakan semuanya dan tentang penolakan Silahisabungan untuk datang ke Balige Raja hingga berinisiatif menculik cucunya untuk memancing kedatangannya.
Belum sempat memberikan sanggahan tiba-tiba langit mendung dan guruh menggelegar serta halilintar sambar-menyambar dan hujanpun segera turun dengan lebat, melihat situasi itu Sibagotnipohan sudah tau bahwa Silahisabungan sudah tiba di Balige Raja
Singkat cerita Silahisabunganpun meminta pertanggung jawaban atas ulah Tuan Sihubil yang menculik cucunya yang tidak tau asal muasal pertentangan diantara mereka, namun dengan permohonan maaf dari Sibagotnipohan dan bujukan dari Sipaettua dan Siraja oloan hatinyapun terobati.
Dengan kehadiran adek-adeknya hingga hujanpun turun di Balige Raja Sibagotnipohanpun mengadakan pesta besar dan mengundang seluruh penghuni kampung untuk merayakan kejadian itu.
Mengingat suasana yg berbahagia itu dan untuk mengikat tali persaudaraan diantara mereka Tuan Sihubil yang sudah menculik Raja Bunga-bunga mengusulkan untuk mengangkatnya jadi anak dan menjadi adik dari Tampubolon anaknya, yang memang kalau dirunut dari silsilah mereka satu generasi.
Hal itupun disetujui kedua belah pihak dan dibuatlah padan diantara Raja Bunga-bunga Silalahi dengan Tampubolon yakni sisada lulu anak sisada lulu boru, Tampubolonlah Dahahang doli, Silalahilah Anggi doli kelak sampai selama-lamanya.
Tuan Sihubilpun memeluk Silalahi Raja dengan berkata anakmu sudah menjadi anakku yang berarti anakku juga menjadi anakmu hal itu juga menjadikan seluruh anak Silalahi Raja menjadi terikat padan oleh karena adiknya Si raja bunga-bunga.
Oleh karena Siraja Bunga-bunga silalahi sudah menjadi anak Tuan Sihubil dan mengingat sejarahnya diculik dari parmahanan maka Tuan Sihubil menyebutnya Raja bunga-bunga Silalahi Parmahan yang sekarang keturunannya berbonapasogit di Balige dan diberikan tanah warisan yang disebut Huta Silalahi sampai sekarang.
Demikianlah sampai saat ini Silalahi maupun Tampubolon mematuhi padan itu dan tidak pernah saling mengawini.
Jumat, 19 Maret 2010
Silsilah Silalahi
Pernyataan Pomparan ni Datu Gontan Tambunan Lumban Pea dan Punguan Pomparan ni Datu Gontan Tambunan Lumban Pea anak dohot boruna di kota besar Medan.
Menimbang :
1. Ala tingki on gabe tutu sada nari pandapot na mandok 2 (dua) halak do hape silahisabungan jala 8 (walu) halak anaknya, gabe mangkorhon perpecahan dipomparan ni Silahisabungan, alani i, Pomparan ni Datu Gontan Tambunan Lumban Pea anak dohot boruna di Kota besar Medan porlu manontuhon sikap / pendirian.
2. Ala adong tahi ni sepihak laho pajongjonghon Tugu / makam ni Ompu Silahisabungan di Paropo, mangkorhon perpecahan alani on :
Pomparan ni Datu Gontan Tambunan Lumban Pea anak dohot boruna se kota besar Medan porlu manontuhon sikap / pendirian.
3. Ala naung adong hian TAMBAK ni Omputta Silahisabungan di Dolok Parmasan Pangururan, jala adong tahi naeng mamagar manang padengganton Tambak i Punguan Pomparan ni Datu Gontan Tambunan Lumban Pea anak dohot boru se kota besar Medan MANOLOPI ULAON NA DENGGAN I.
Mengingat :
1. Tona ni ompunta sijolo-jolo tubu naung taparmudarhon sian na jolo sahat tu sadarion na mandok : 3 (tolu) halak na nialap ni (Ompunta boru) Silahisabungan jala 9 (sia) halak do anakna.
2. Poda ni Ompunta tu sude pinomparna mandok : ingkon parmudarhonon jala ingkon ulahonon do sude isi ni Padan Sagu-sagu Marlangan dohot Dengke hilaean binahen ni ompunta Silahisabungan tu sude anakhonna i ma :
Manontuhon / manolophon :
Parjolo :
Punguan pomparan ni Datu Gontan Tambunan Lumban Pea anak dohot boruna sekota besar Medan ndang parsidohot jala ndang panolopi tu na pajongjong / paojakhon TUGU / MAKAM Silahisabungan di Paropo ala menimbulkan perpecahan.
Paduahon :
Punguan pomparan ni Datu Gontan Tambunan Lumban Pea anak dohot boruna sekota besar Medan manolopi jala parsidohot tu pemagaran / padenggan Tambak ni Ompunta Silahisabungan naung adong di Dolok Parmasan Pangururan.
Patoluhon :
Nasa na dohot sian pomparan ni Datu Gontan Tambunan Lumban Pea na hundul di Panitia tugu / makam Silahisabungan di Paropo, dang utusan jala ndang na mamboan goar ni punguan Datu Gontan Tambunan Lumban Pea anak dohot boruna.
Paopathon :
3 (tolu) halak do na tangkas binoto ripe / nialap ni Ompunta Silahisabungan ima :
1. Pinta Haomasan Boru Sibaso Nabolon boruni Sorbadijulu (iboto ni Simbolon)
2. Pinggan Matio boru Padang Batanghari
3. Sanggul meleng-eleng boru ni Raja Mangarerak (ibotoni Manurung)
Palimahon :
9 (sia) halak do anak ni Ompunta Silahisabungan ima :
- Tubu ni Ompunta Sibaso Nabolon :
1 (sada) Silalahi (Silahi Raja)
- Tubu ni Ompunta Pinggan Matio ima :
1. Sihaloho
2. Situngkir
3. Romasondi
4. Sidebang
5. Sinabutar
6. Sinabarita
7. Pintubatu
- Tubu ni Ompunta sanggul Meleng-eleng boru ni Raja Mangarerak (ibitoni Manurung)
1 (sada) ima si Raja Tambun .
Langganan:
Postingan (Atom)


