Sabtu, 17 April 2010

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat bimbingan-Nya Buku Keberadaan Marga Silalahi ini dapat kami persembahkan kepada warga Silalahi terutama para generasi mudanya.
Disadari buku ini masih jauh dari kesempurnaan baik menyangkut redaksi, tata bahasa, isi dan lain-lain, namun untuk membantu mempertahankan harkat dan martabat Silalahi sebagai marga anak Silahisabungan dianggap sudah memadai.
Penulis menyadari masih banyak bahan cerita yang belum tertuangkan dalam buku ini, karena itu dengan segala kerendahan hati kami mengharapkan saran demi perbaikan dan kesempurnaannya.
Buku ini kami tulis sebagai persembahan terhadap pengorbanan para pendekar-pendekar marga Silalahi seperti S. Silalahi alias A. Jumagor (Medan), Guru T Silalahi (Tomok), Prof. Ir. Abel Silalahi (Surabaya), Bonifasius Silalahi (Pematang Siantar), Tuan Abal Silalahi (Ambarita), A. Usman Silalahi, A. Bob Silalahi (Medan), Kol. G. Silalahi, Kol. B. Silalahi, SH (Jakarta), DA. Silalahi (Medan), NL. Silalahi Jakarta, G. Silalahi serta Wongso Silalahi (Pematang Siantar) dan lain-lain.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Drs. Muller Silalahi M.M. Ketua Umum Punguan Silalahi DKI Jakarta yang terus mendorong dan memberi semangat demi tersusunnya buku ini.
Tidak kurang penghargaan kepada isteri tercinta M Ida Malau beserta seluruh anak-anak yang turut ambil bagian menyumbang keperluan bahan sehingga naskah buku ini terselesaikan
Semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua.

Jakarta, 5 Maret 2003
Abdul Silalahi, SH

DAFTAR ISI
Hal
PRAKATA PENULIS 1
DAFTAR ISI 2
Sajak Prof. Ir. Abel Silalahi 4
Ende Silahisabungan Gr. F. Silalahi 5
Keberadaan Marga Silalahi dalam Silsilah Silahisabungan 6
I. Legenda Perjalanan Silahisabungan 16
1. Perjalanan ke Tolping dan Perkawinannya 16
2. Perjalanan ke Silalahi Nabolak 17
3. Perjalanan ke Sibisa dan Perkawinannya 19
II. Hubungan Pintu Haomasan Dengan Si Raja Tambun 21
1. Berairnya air susu Pintu Haomasan
dan pemberian nama si Raja Tambun 21
2. Perawatan atas cidera si Raja Tambun 22
3. Padan Dengke Nilaean 25
III. Pengalaman Pribadi Sebagai Pemilik Marga Silalahi 28
1. Kenangan di bangku Sekolah 28
2. Istreri menumpang becak 29
3. Undangan perkawinan keluarga Tambunan 30
4. Pembicaraan di Kapal Kambuna 31
IV. Raja Parmahan 34
V. Kematian Silahisabungan 36

VI. Kesimpulan dan Bagan Silsilah Silahisabungan 38
Lampiran-lampiran 44
1. Janji urat ni Eme Bius
Tolping dan Bius Sibisa 44
2. Pernyataan Pomparan Datu Gottam Tambunan Lumban Pea
Kodya Medan 46
3. Punguan Raja Tambun Boru-Bere Bandung dan Sekitarnya. 49

SAJAK PROF. IR. ABEL SILALAHI
S U R A B A Y A

1. Raja Silahisabungan dengan Ibu Sari Pinta Haomasan yang cantik jelita, melahirkan putra sulung bernama Silalahi ratusan tahun yang lalu, peristiwa itu di Samosir Danau Toba. Kami keturunan Silalahi merenung penuh pesona.

2. Kini kami berada dan tersebar di seluruh Nusantara. Kami hidup tenang melakukan profesi penuh sejahtera.
Tiba-tiba datanglah topan memutar balikkan sejarah
Kami berjuang mempertahankan keberadaan Silalahi dengan perkasa

3. Selama satu generasi kami diguncang oleh derita
Mempertahankan eksistensi adanya marga Silalahi
Kami maju menyusun buku keberadaan marga Silalahi
Mengabdikan peristiwa tonggak sejarah sepanjang masa.

Surabaya, 1985

“ENDE SILAHISABUNGAN”
Guru Ferdinan Silalahi, Tomok
BE. No. 247

1. Ompunta na parjolo parsadaanta i
Raja na marnoho, na marsahala i
So dung be humolso so dung marmara i
Ai boi do diboto pardalananna i

2. Ompu na marsahala Silahisabungan i
Ai so hea marmara manang hunortik i
Ai so adong barani mangganggu ompu i
Patar do dibohina hasantianna i

3. Adong na jolo raja na tarbarita i
Ima raja nabolon ompu ni Parna i
Sude anakna lima, sada boruna i
Si Pinta Haomasan i ma goarna i

4. Ompunta Tamba Tua Raja na burju i
Na pasauthon ibotona si Pinta Haomasan i
Tu ompunta Silahisabungan na hasaktian i
Ima na manubuhan marga Silalahi i

5. Siboru Meleng-eleng boru oroan i
Tangkas boru ni ompunta Raja Mangarerak i
Ima na manubuhan si Raja Tambun i
Alai na patarusson si Pinta Haomasan i

I
KEBERADAAN MARGA SILALAHI SEBAGAI ANAK DALAM SILSILAH SILAHISABUNGAN

Topik ini sangat penting. Mengapa ? Permasalahan silsilah Silahisabungan sampai sekarang ini yang bersumber dan dibangun dari pendapat para penulis adalah ketidak bersamaan persepsi tentang Silalahi sebagai marga anak Silahisabungan.
Para penulis silsilah mengakui bahwa sejarah, silsilah maupun legenda yang diperoleh/diteliti dari pemilik marga selalu tidak sama karena ceritra yang diwariskan dari mulut ke mulut oleh leluhur, daya tangkap turunannya berbeda-beda dan sudah barang tentu akan menghasilkan tulisan yang berbeda pula.
Keberanian para penulis itu patut dihargai setinggi-tingginya karena dengan terobosan itulah marga-marga Batak pada umumnya dan Silahisabungan pada khususnya mempunyai bagan silsilah yang tertulis walaupun belum diterima sama oleh keturunan-keturunannya.
Harapan para penulis adalah untuk mendorong pemilik marga untuk menyatukan cerita leluhur yang berbeda itu dimusyawarahkan secara bersama-sama untuk menghasilkan silsilah yang benar dan diterima oleh seluruh turunan-turunannya.
Nyatanya khusus untuk turunan Silahisabungan bukan musyawarah untuk mufakat uang menjadi tujuan akan tetapi pemutar balikan fakta, data, peristiwa, kefaksian serta pernyataan untuk menghilangkan harkat dan martabat Silalahi sebagai marga anak Silahisabungan, sehingga ada turunan Silahisabungan yang tidak punya marga dan ada pula yang kelebihan marga.
Jelasnya setiap orang yang berasal dan masuk rumpun Batak harus ada marganya dan ada silsilahnya yang diterima secara turun-temurun dari leluhurnya.
Marilah kita lihat bagan silsilah Silahisabungan yang disusun para penulis atau pendapat pribadi dari turunan Silahisabungan mengenai keberadaan Silalahi sabungan marga turunan (sundut) yang keberapa dia dari nenek moyangnya sebagai berikut :

1. W.N. Hutagalung dalam Pustaka Batak tahun 1926 menyusun bagan silsilah Silahisabungan seperti dibawah ini :
Silahisabungan Ompu Sinabang anak Sinabang pergi ke Balige menjumpai Raja Parmahan (sigiro) tinggal di Pagarbatu turunannya bermarga Silalahi, di Hinalang turunannya Silalahi, tetapi dalam bagan turunan Raja Parmahan adalah Doloksaribu, Sinurat, Nadapdap dan Naiborhu tidak jelas dari anaknya yang mana.
Sinabang maupun Sigiro sudah marga turunannya menjadi Silalahi, tidak logis Silahisabungaan sebelum pergi ke Silalahi nabolak pernah tinggal di Tolping Ambarita, akan tetapi tidak ada penjelasan lebih lanjut pernah kawin dan ada anaknya disana. Selama tinggal di Tolping yang tidak berlanjut inilah yang luput sehingga keberadaan Silalahi sebagai anak menjadi tidak tertulis dalam bagan silsilah.

2. Drs. Nalom Siahaan dalam Adat Dalihan na Tolu membuat bagan silsilah Silahisabungan tahun 1982 sebagai berikut :

Catatan tambahan :
Turunan Silahisabungan juga marga-marga Naiborhu, Rumasingap, Sigiro, Sipayung, Sipangkar, Doloksaribu, Sinurat Nadapdap dan Sembiring di Tanah Karo intinya masuk Silahisabungan.
Untuk 7 (tujuh) anak Silahisabungan diakulade Silalahi tetapi Si Raja Tambun tidak ikut.
Penjelasan tidak ada dan marga-marga yang masuk Silahisabungan dalam catatan tambahan tidak jelas turunan siapa.

3. RT. Tambunan SH, seperti dalam Poda Sagu-sagu Marlangan tahun 1990 menulis silsilah Silahisabungan sebagai berikut :
Silahisabungan :
Sponte I Pinggan Matio br. Padang batanghari
Tons 1. Laho Raja ( Sihaloho)
2. Nungkir Raja (Situngkir)
3. Sondiraja (Sirumasondi) Deang Namora
Deang na mora (boru)
4. Butar Raja (Sinabutar)
5. Dabariba Raja (Sidabariba)
6. Debang Raja (Sidebang)
7. Batu Raja (Pintubatu)
Sponte II Siboru Mailing Narasaon
8. Tambun Raja (Tambun)

Silsilah ini lebih lengkap karena nama putrinya pun ikut ditulus, jarang silsilah marga lain ditulis dengan putrinya.
Dari nama-nama putra-putri Silahisabungan ini tidak tertera adanya Silalahi sebagai marga maupun marga persatuan. Nama / marga-marga inilah yang terekam pada relief Tugu Silahisabungan di Silalahi Nabolak

4. Panitia Pusat Tugu / Tarombo Silahisabungan tahun 1968

T a r o m b o
A. Istri Omp. Silahisabungan
1. Pinggan Matio boru Padang Batanghari
2. Meleng-eleng boru Mangarerak

B. Putra-putra Omp. Silahisabungan
1. Sihaloho Raja
2. Situngkir Raja
3. Sondiraja
4. Sidabutar Raja
5. Sidabariba Raja
6. Sidebang Raja
7. Pintubatu Raja
8. Tambunan raja.

C. Putri Omp. Silahisabungan boru Deang Namora

Anjuran :

1) Untuk menghindarkan salah paham dan untuk menjaga kemurnian Sagu-sagu Marlangan maka dianjurkan kepada seluruh marga Silahisabungan agar memakai istilah Silalahi dimuka marganya masing-masing.
2) Untuk menghindarkan kekeliruan pengertian marga yang sama antara turunan Sondi Raja / Raja Parmahan dan turunan Tambun Raja maka dianjurkan memakai Silalahi atau Tambun dimuka marganya masing-masing
Umpamanya :
a. Silalahi Doloksaribu
Silalahi Sinurat
Silalahi Nadapdap
b. Tambun Doloksaribu
Tambun Sinurat
Tambun Nadapdap.

Menurut Panitia tarombo ini karena Silalahi hanya istilah, digunakan seluruh marga Silahisabungan sampai generasi keberapapun dan si Tambun Raja tidak terkecuali.
Penulis belum pernah mendengar atau mengetahui Doloksaribu, Sinurat dan Nadapdap berasal dari 2 (dua) marga yaitu Sondi Raja dan Tambun Raja, sedangkan Naiborhu dari marga yang mana tidak jelas.
Kalau namanya Panitia Tarombo dasar hukum sudah kuat dan putusan-putusannya mengikat akan tetapi Tarombo yang dihasilkan Mubes tahun 1968 ini hanya mampu membuat anjuran tentunya kapabilitas Panitia Tarombo ini kurang mendapat dukungan dari marga .
Penggunaan istilah dalam silsilah marga hanya dijumpai pada turunan Silahisabungan versi Panitia Tarombo Mubes 1968 sehingga sulit membandingkannya dengan marga lain apa fungsi Silalahi sebagai istilah itu dipakai didepan marga.
5. Drs. Richard Sinaga, leluhur marga-marga Batak dalam sejarah, silsilah dan legenda tahun 1997 membuat bagan silsilah Silahisabungan sebagai berikut :

1. Loho Raja Sinabarno … Haloho
Sihaloho Tinapuran ….Depari
2. Tungkir Raja Sibagason ….Pandia
Situngkir Sipakpalan … Sipayung
Sipangkar
3. Sondiraja Rumasondi
4. Butarraja Sinabutar
5. Sidabariba Raja Sidabariba
6. Debang Raja
7. Baturaja Pintubatu
8. Tambun Raja Tambunan

A. Istri Silahisabungan sudah ditulis 3 (tiga) orang.
1. Pinggan matio boru padang batangkari dipermasalahkan dari induk marga mana
2. Pinta Haomasan (boru Baso Nabolon) putri sorbadijulu
3. Boru meleng-eleng anak ni Raja Mangarerak

B. Raja Parmahan, ada 3 (tiga) versi.
1. Silalahi Raja (Silalahi ) Raja bunga-bunga inilah, karena dari Parmahanan oleh Tuan Sihubil dinamai Raja Parmahan.

2. Sondiraja

3. Pintubatu : Sigiro

C. Marga Silalahi ada beberapa pendapat :

1) Marga Silalahi adalah marga untuk semua keturunan Silahisabungan di luar keturunan Tambun Raja
2) Marga Silalahi adalah marga untuk keturunan Silalahi Raja anak Silahisabungan yang lahir dari si Pinta Haomason
3) Marga Silalahi adalah marga yang digunakan keturunan Laho Raja yang bermukim di Toba.

D. Marga Silalahi dan Marga Tampubolon :
Si Giro (Raja Parmahan) anak Pintubatu diangkat anak kedua Tuan Sihubil antara Sapalatua (Tampubolon) dan sigiro (Raja Parmahan) terjalin hubungan persaudaraan melebihi persaudaraan hubungan darah yaitu sisada lulu anak sisada lulu boru. Ikrar ini mencakup antara marga Tampubolon dengan Saudara Sigiro yang menggunakan marga silalahi.
Pada tahun 1932 pada waktu peresmian Tugu Tuan Sihubil, marga Silalahi yang membawa sulang-sulang kepada hahadoli Tampubolon.

E. Marga Tampubolon.
Menurut sejarah Batak tulisan Batara Sakti, Doloksaribu, Sinurat, Naiborhu, dan Nadapdap adalah marga yang tumbuh dari Tambun
Demikian juga tulisan KK Immanuel Tambunan dalam sejarah Silahisabungan dengan Omp. Baruara.
WM. Hutagalung dalam Pustaka Batak mencantumkan Doloksaribu, Sinurat, Nadapdap tanpa ikut Naiborhu tumbuh dari Sigiro (Raja Parmahan) menurut tokoh Sondiraja di Jakarta, Doloksaribu, Sinurat, Nadapdap dan Naiborhu adalah keturunan Sondiraja.
Isi buku ini sudah mengungkap semua permasalahan dalam silsilah Silahisabungan hanya kemauan turunannya yang ditambah menyamakan titik pandang yang sama mengenai :
1) Silalahi jelas adalah marga anak Silahisabungan dan tidak ada marga persatuan hanya mencakup satu ibu harus bersumber dari Bapak yaitu Silahisabungan
2) Laho Raja turunannya hanya 2 (dua) yaitu Sinaborno dan Sinapuran, turunan yang mana pindah ke Toba dan berobah menjadi Silalahi ! Apakah marga bisa dirobah-robah ?
3) Pada pesta Tugu Tuan Sihubil tahun 1932 marga Silalahi yang datang memberi Sulang-sulang kepada hahadoli Tampubolon, kenapa bukan Sigiro atau Pintubatu ?
Sepanjang diketahui marga Silalahi dari Pagarbatu / Hinalang Balige tidak pernah mengaku marganya selain Silalahi berarti mereka bukan turunan Sigiro (Pintubatu), apa keengganan kita memakai marga asli sesuai warisan leluhur.
4) Doloksaribu, Sinurat, Naiborhu dan Nadapdap tidak mungkin dari Sondiraja karena adat ikrar tidak boleh kawin mengawini sampai turunannya antara Silalahi dengan Tambupolon, sedang Tampubolon sudah banyak yang kawin mengawini dengan Doloksaribu, Sinurat, Naiborhu dan Nadapdap, dapat dipastikan keturunan marga itu tumbuh dari turunan Si Raja Tambun sesuai tulisan Batara Sakti KK Immanuel Tambunan.

F. Mengenai Tugu Silahisabungan tidak kita ulas disini karena :
1) Turunan Raja Tambun bonapasogit tidak setuju meresmikan sebelum jelas Tarombo karena, Tugu / makam akarnya terletak pada Tarombo jangan terulang situasi tahun 1964 dan 1968 dimana ada Doloksaribu, Sinurat, Nadapdap, Silalahi dan ada si Raja Tambun.
2) Disarankan agar diseminarkan lebih dahulu sebelum peresmian Tugu / Makam, permintaan ini belum terjawab sudah diresmikan pada tangal 23 sampai dengan 27 Nopember 1981 (?!..)
3) Seorang Tokoh Tambunan di Jakarta berpendapat secara pribadi tidak setuju membuat Pesta Tugu setiap tahun karena bertentangan dengan keadaan umum dan bertentangan dengan agama

II
LEGENDA: PERJALANAN SILAHISABUNGAN

1. Perjalanan ke Tolping dan perkawinannya
W.M. Hutagalung dalam Pustaka Batak menulis, “Na lao do Silahisabungan tu luat Silalahi alai jolo maringanan do ibana di Tolping Ambarita”.
Penelitian ini sesuai dengan pesan leluhur, karena untuk keberangkatan 3 (tiga) orang abang beradik Sipaettua, Silahisabungan dan Siraja Oloan mencari pemukiman baru sebagai tempat tinggal, Sipaettua tinggal di Laguboti, Silahisabungan dan Siraja Oloan harus ke Samosir.
Setelah di Lontung SiRaja Oloan dan Silahisabungan berpisah dimana Silahisabungan harus kearah Utara dan tinggal di Tolping sedangkan Siraja Oloan harus ke Pangururan.
Huta Tolping dan pulau Tolping dikukuhkan Silahisabungan sebagai tempatnya yang pertama dan selama tinggal di Tolping kawin dengan Pinta Haomasan anak Raja Nabolon (Sorbadijulu) dari Pangururan sebagai upahnya membantu Sorbadijulu mengusir musuhnya marga Lontung.
Perkawinan ini melahirkan seorang anak yang diberi nama Silalahi, dan sesudah kelahiran anak ini Pinta Haomasan tidak pernah mengandung lagi.
Silalahi setelah dewasa dikawinkan dengan boru Simbolon dan dari perkawinan ini lahir 3 (tiga) orang anak yang diberi nama :
1. Tolping Raja
2. Borsuk Raja
3. Raja Bunga-bunga
Raja Bunga-bunga inilah yang diculik Tuan Sihubil yang gagal membujuk Silahisabungan untuk rujuk dalam doa bersama karena musim kemarau panjang di Balige.
Setelah diangkat anak kedua dari Tuan Sihubil karena diculik dari parmahanan namanya diganti menjadi Raja Parmahan akan tetapi marganya tetap Silalahi
Untuk memperkokoh kekerabatan kedua anaknya kemudian dibuat ikrar sisada lulu anak sisada lulu boru antara Tampubolon dengan Silalahi dan sesudah dikawinkan diberi pauseang di Hinalang Balige dan kampungnya dinamai Silalahi Hinalang. Ikrar terjadi antara dua marga dan tidak mungkin perjanjian terjadi antara Raja Parmahan Sigiro dan hasilnya menjadi Silalahi. Sigiro adalah marga cabang dari Pintubatu dan ikrar terjadi antara marga Tampubolon dengan marga Silalahi, dan bila benar Raja Parmahan adalah Sigiro. Ikrar pun harus dengan Sigiro itulah logikanya.
Tolping raja, Bursak Raja maupun Raja Bunga-bunga tidak menjadi marga hanya nama, jadi marganya tetap Silalahi.

2. Perjanalan ke Silalahi Nabolak dan Perkawinannya.
Silahisabungan adalah seorang tokoh yang sakti, sanggup mengusir bala atau penyakit, pintar dan sabungan di hata.
Didorong oleh kesaksiannya Silahisabungan selalu ingin pergi ketempat lain manandangkon kedatuon (menguji kepintaran / ketangkasan).
Dari Parbaba yang sekarang dilihatnya diseberang danau ada tanah datar dan perbukitan yang indah lalu timbul niatnya untuk pergi kesana.
Sebelum kepergiannya sudah dipersiapkan membawa sedikit tanah dan air dalam kendi kecil.
Sesampai di daerah itu, dipinggiran danau didirikan panca-panca sebagai tempat tinggal sekaligus tempat menangkap ikan.
Suatu ketika Raja Pakpak datang dan heran didaerah hutan dipinggir danau yang sepi itu ada orang, lalu didekatinya. Pada awalnya Raja Pakpak ingin berdebat mengenai keberadaan Silahisabungan di daerah kekuasaannya itu, akan tetapi setelah memperhatikan ketangkasannya berbicara akhirnya mengalihkan pembicaraan mengenai teman hidupnya dan menawarkan putri-putrinya menjadi istrinya.
Silahisabungan menyambut tawaran itu dan dipilihnyalah Pinggan Matio boru Padang Batanghari menjadi isterinya.
Perkawinan ini melahirkan 7 orang putra dan seorang putri masing-masing diberi nama Laho Raja, Tungkir Raja, Sondiraja, Baturaja, Dabariba Raja, Debang Raja dan Baturaja, sedang putrinya bernama Deang Namora yang kemudian menjadi marganya kecuali Tungkir Raja masih melahirkan marga cabang yaitu Sipangkar dan Sipayung, dari Sondiraja Romasondi dan Rumasingap, dari Pintubatu adalah Sigiro.
Dj Jhon R Sidebang dalam Bonani Pinasa Agustus 1991 menulis bahwa nama huta Silalahi diambil dari nama Silahisabungan yang menurunkan marga Silalahi.
Nama anak laki-laki yang menjadi pewaris keturunan marga-marga Silalahi adalah marga-marga tersebut diatas.
Menurut RT Tambunan SH dalam poda Sagu-sagu Marlangan, Silalahi Nabolak itu bukan huta tetapi desa (wilayah) karena daerah lingkupnya tidak hanya tanah perkampungan yang dikelilingi bambu akan tetapi tanah diluarnya yang masih kosong, tanah hutan serta gunung kalau ada didekatnya.
Warga desa diikat oleh hubungan darah dan merupakan turunan dari satu leluhur dan pada umumnya mempunyai marga yang sama (artinya beberapa marga)
Huta adalah deretan rumah yang dikelilingi pohon bambu yang lebat dan digerbang kampung biasanya ada pohon ara / hariara. Adat dalihan natolu ialah penghuni setiap huta adalah turunan dari satu leluhur pria artinya satu.
Dari pengertian huta dan desa ini dapat dikatakan bahwa didesa Silalahi Nabolak masih ada huta milik marga lain, misalnya huta Sihaloho, huta Situngkir dan lain-lain sedangkan nama huta Silalahi sudah pasti tidak ditemukan disana karena marga Silalahi anak Silahisabungan terdapat di Silalahi nabolak.
Pada zamannya Silahisabungan belum menjadi marga akan tetapi nama baru menjadi marga pada generasi turunan-turunannya, dan bila sudah menjadi marga tidak berubah lagi, artinya marga kakek, nenek, Bapak diri sendiri dan anak harus sama.

3. Perjalanan ke Sibisa dan perkawinannya.
Setelah beberapa lama di Silalahi Nabolak Silahisabungan pamit kepada istrinya untuk pergi ketempat lain.
Kepergian kali ini adalah menuju Sibisa karena kerinduannya melihat daerah yang pernah dilaluinya bersama adeknya Siraja Oloan sewaktu meraka akan mencari tempat tinggal yang baru.
Raja Mangarerak setelah mendengar Silahisabungan sedang berada didaerah itu berusaha menghubunginya karena sudah lama diketahui kepiawaiannya dalam mengobati berbagai penyakit, karena seorang putrinya menderita penyakit yang parah yang walaupun sudah dibawa berobat kemana-mana tidak sembuh-sembuh.
Mengenai upah apa saja booleh diminta asalkan putrinya dapat sembuh, dan ternyata Silahisabungan berhasil menyembuhkannya.
Silahisabungan menagih janji Raja Mangarerak mengenai upahnya yakni suatu kisah yang sulit dibayangkan sebelumnya karena Silahisabungan meminta putrinya yang diobati itu dikukuhkan menjadi istrinya.
Raja Mangarerak menjadi bingung karena sudah dijanjikan namun ditawarkan untuk memilih putrinya yang lain karena boru Meleng-eleng ini sudah bertunangan dengan pemuda lain.
Silahisabungan bersikukuh dengan pendiriannya dengan berkata : Marpudung do palia, mar jaya ia pinamalo ho ditunangan mulak tu nampunasa.
Pernyataan Silahisabungan ini membuat Raja Mangarerak mau tidak mau harus menyetujui, kemudian disyahkanlah perkawinan putrinya itu dengan Silahisabungan.
Tidak berapa lama setela pengesahan perkawinan itu, tanda-tanda kehamilan boru meleng-eleng mulai kelihatan dan Silahisabungan walaupun gembira menerimanya namun tumbuh kekhwatiran kalau tunangan baru pulang sedang anak dalam kandungan belum lahir.
Saya bapaknya, orang lain yang memelihara dan membesarkannya bagaimana nantinya nasib anak itu, demikian terngiang dalam pikiran Silahisabungan.
Apa yang diramalkan benar terjadi satu minggu setelah kelahiran sianak itu. Berita kepulangan tunangannya sudah menyebar dari mulut ke mulut untuk membuat perhitungan dengan Raja Mangarerak atas persetujuannya meresmikan tungangannya kawin dengan pria lain.
Mendengar beritu itu Silahisabungan berkata kepada boru meleng-eleng bahwa sesuai janji saya kepada Bapak Raja Mangarerak, saya dan bayi ini harus pergi, untuk itu siapkan keberangkatan.
Meleng-eleng menangis, saya tidak rela melepas anak ini, menetekpun belum bisa dan lagipula air susu siapakah yang mungkin ada untuk menghidupinya sambil bersinandung. (bernyanyi)
Ale Ompung mulajadi nabolon, panongosmi di au leang-leang mandi. Pangalu-aluhon tua ahu ale Ompung molo ingkon mate anakkon ala so minum.
Sebagai yang baru lahir itu dimasukkan kedalam gajut, susu kerbau sebagai bekal dijalan dan diberi tanda sebuah TAGAN tempat sirih, tanda mana kalau kelak anak ini bisa pulang dan saya masih hidup, lalu dilepaslah keberangkatan itu dengan deraian air mata.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar